Salam Kami

doa rabithah

doa rabithah

HADAPILAH...SHOUTUL HARAKAH

Selasa, 07 Februari 2012

Pakaian Bernama Malu



Oleh Asma Nadia

“Bunda senang kalau Adam nggak pemalu?“ Pertanyaan yang disampaikan dengan sorot mata jernih dari bungsu saya, seharusnya mudah saja dijawab. Saking mudahnya barisan kalimat bahkan telah menarinari di ujung lidah. Tetapi, satu pikiran memaksa saya memberi jeda sebelum membuka mulut.

Benarkah saya senang jika anak-anak tidak menjadi seorang pemalu? Secara umum ya.

Saya rasa akan memudahkan orang tua jika ananda mudah bergaul, tidak bersembunyi di balik tubuh orang tua, saat teman-teman lain bermain bersama. Atau berlomba-lomba mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan guru di kelas. Tetapi, sebuah hadis membuat persoalan malu ini menjadi tidak sesederhana itu.



Sebab, memiliki rasa malu juga merupakan pesan dari nabi-nabi terdahulu sampai yang terakhir. Dalam skala yang lain, malu bisa jadi merupakan satu kata kunci yang bisa membuat setiap bangsa menjadi besar dan maju. Dan, saya kira si bungsu harus tahu tentang ini. Saya pandang matanya saat mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Hadis tersebut berbunyi, “Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu, perbuatlah apa yang engkau suka.“ Sedangkan, kakaknya yang baru saja bergabung dalam diskusi kecil kami, tampak merenung. Si bungsu saya terlihat bingung mendengar kutipan di atas sehingga saya harus memberikan tambahan penjelasan.

Rasa malu adalah sesuatu yang harus dilekatkan dalam diri jika itu bisa menjadi tameng dari keinginan berbuat buruk. Jika punya rasa malu, tidak mungkin sebuah lembaga tinggi negara merenovasi bagian dalam gedung seluas sekitar 100 meter persegi dengan biaya Rp 20 miliar dan menganggarkan dana Rp 24 juta hanya untuk sebuah kursi.

Jika masih terselip rasa malu, tidak mungkin terjadi seorang yang bersalah diberikan hadiah kebebasan dan seorang yang tidak bersalah dijatuhkan vonis hukuman. Jika malu masih menyatu dengan diri, tidak akan ada petugas yang dengan sukacita memungut uang yang dilempar sopir bus atau truk dari kendaraannya.

Dan, jika malu masih menjadi pakaian diri, mustahil ada tokoh agama yang memilih dan memutuskan mana yang hak dan mana yang batil semata-mata berdasarkan pesanan atau mengenyahkan rasa malu sebab takut pada hal-hal yang bersifat duniawi. Lalu, apa artinya rasa malu dalam keluarga?

Jika ada rasa malu, tidak mungkin seorang ayah berlama-lama menganggur di rumah, membiarkan ekonomi keluarga tertumpu di pundak istri, atau lebih parah lagi mengandalkan anak belasan tahun yang terpaksa berhenti sekolah demi menopang kehidupan keluarga.

Jika rasa malu terlekat kuat, tidak akan ada ayah yang tega menghabiskan uang untuk merokok ketika keperluan sekolah anak-anak dan kebutuhan lain keluarga masih tak bisa ia penuhi. Rasa malu juga yang akan mencegah seorang bunda untuk sibuk dengan ponsel, chatting, bermain Facebook atau Twitter, ketika ananda di dekatnya kebingungan mengerjakan pekerjaan rumah.

Pun, rasa malu yang membuat orang berpikir ulang bergonta-ganti gadget, ponsel, mobil, dan pameran kemewahan lainnya, sementara di sekitar mereka berseliweran kemiskinan dalam berbagai rupa. “Tetapi, bukannya nggak boleh jadi anak pemalu, Bunda?“ Telah beberapa jam lewat dari pertanyaannya yang pertama. Di dekatnya, si kakak tampak menggaruk-garuk kepala yang mungkin tidak gatal.

Tidak ada kata malu dalam jalan kebaikan. Tidak ada malu yang boleh dibiarkan hingga seseorang kehilangan banyak kesempatan memberi manfaat lebih besar bagi orang lain. Tetapi, dengan rasa malu, seseorang akan berhenti sebelum melakukan keburukan sekalipun belum ada hukum negara yang dilanggar.

Sebaliknya, seseorang akan terdorong untuk melakukan banyak kebaikan meskipun tidak ada yang memberikan instruksi. Sebab, malu adalah ajaran para nabi. Sebab, malu merupakan sebagian dari iman yang harus abadi di dalam dada. Dan percayalah, jika pakaian bernama malu masih kita kenakan, kita akan lebih sering menudingkan telunjuk ke diri sendiri ketimbang kepada orang lain.***

Sumber : REPUBLIKA (Resonansi, Sabtu 04/02/12)