Salam Kami

doa rabithah

doa rabithah

HADAPILAH...SHOUTUL HARAKAH

Selasa, 20 September 2011

10 Bunga Hidup Bahagia


1.      Bangun di saat menjelang fajar untuk beristighfar.
{Dan, yang memohon ampun di waktu sahur.} (QS. Ali`Imran: 17)

2.      Menyendiri untuk ber-tafakur.
{Dan, mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.} (QS. Ali`Imran: 191)

3.      Menjalin hubungan dengan orang salih.
{Dan, bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya.}
(QS. Al-Kahfi: 28)


4.      Berdzikir.
{Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kamu (dengan menyebut nama Allah), dzikir yang sebanyak-banyaknya.} (QS. Al-Ahzab: 41)

5.      Melakukan shalat dua rakaat dengan khusyu’.
{Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalat mereka.} (QS. Al-Mu`minun: 2)

6.      Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur.
{Tidakkah mereka memperhatikan al-Qur’an?} (QS. An-Nisa: 82)

7.      Berpuasa pada hari yang sangat panas.
Meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Aku.” (Al-Hadits)

8.      Melakukan sedekah secara sembunyi-bunyi.
Hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (Al-Hadits)

9.      Meringankan beban seorang muslim.
Barangsiapa meringankan kesusahan yang dialami seorang muslim di dunia, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan yang ada di hari Kiamat.” (Al-Hadits)

10.  Berlaku zuhud terhadap sesuatu yang sifatnya fana.
{Sedangkan kehidupan akhirat itu lebih baik dari lebih kekal.} (QS. Al-A`la: 17)

Salah satu yang menjadikan anak Nabi Nuh sengsara adalah karena dia berkata:
{Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.} (QS. Hud: 43)

      Seandainya dia mencari perlindungan kepada Rabb langit dan bumi, maka itu akan jauh lebih baik, lebih mulia dan lebih selamat.

      Namrud menjadi sengsara karena dengan congkak berkata, Sayalah yang menghidupkan dan mematikan.” Dengan berkata demikian berarti ia telah `memakai pakaian yang bukan miliknya mencuri sifat yang tidak halal baginya’. Akibatnya, ia pun dibuat tak berkutik dan tak berdaya.

{Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan di dunia.}
(QS. An-Nazi`at: 25)

      Kunci kebahagian ada pada satu kata. Warisan agama ada pada sebuah ungkapan. Dan panji kemenangan terletak pada sebuah kalimat. Kata, ungkapan dan kalimat itu adalah: La ilaha illallah, muhammad rasulullah.

      Kebahagiaan seseorang yang mengucapkan itu di bumi, adalah saat kelak di langit akan dikatakan kepadanya, “Engkau benar.” {Dan, orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya.} (QS. Az-Zumar: 33)

      Kebahagiaan orang yang mengamalkannya adalah jaminan bahwa dia akan selamat dari kehancuran, cela, cacat, dan neraka. {Dan, Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka.} (QS. Az-Zumar: 61)

      Kebahagiaan orang yang menyeru kepada sesama untuk sama-sama kembali kepada syahadat dimaksud, adalah jaminan akan ditolong, dibantu dan akan dikatakan terima kasih kepadanya. {Dan,sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.} (QS. Ash-Shaffat: 173)

      Kebahagiaan orang yang senang terhadap syahadat ini adalah jaminan akan diangkat, dimuliakan, dan dihargai.
{Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.} (QS. Al-Munafiqun: 8)

      Bilal yang ketika mengucapkan kalimat ini masih dalam keadaan budak, di kemudian hari ia menjadi seorang yang merdeka. {Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).} (QS. Al-Baqarah: 257)

      Sedangkan Abu Lahab al-Hasyimi sangat angkuh untuk mengucapkannya, maka ia pun meninggal sebagai seorang hamba yang hina dina. {Dan, barangsiapa dihinakan oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang mampu memuliakannya.} (QS. Al-Hajj: 18)

      Dengan demikian, kalimat syahadat tersebut adalah mukjizat yang telah mendorong manusia dari wujud yang tidak berharga ke arah puncak keimanan rabbaniyah yang suci.

{Tetapi kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjukkan dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami} (QS. Asy-Syura: 52)

      Jangan pernah berbangga dengan dunia jika anda berpaling dari akhirat. Sebab siksa yang pedih sedang berada di jalan anda. Kehinaan dan kepedihan telah siap menunggu. {Hartaku sekali-sekali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku.} (QS. Al-Haqqah: 28-29)

{Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mengawasi.} (QS. Al-Fajr: 14)

      Jangan pernah berbangga dengan anak keturunan kalau pada saat yang sama anda berpaling dari Yang Maha Tunggal, Rabb Tempat Bergantung semua makhluk. Sebab berpaling dari-Nya berarti kehinaan yang tiada berhingga, kerugian yang teramat besar, dan kenistaan yang paling keji. {Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan.} (QS. Al-Baqarah: 61)

      Jangan pula pernah berbangga dengan harta benda yang melimpah, jika anda ternyata masih melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Sebab perbuatan itu hanya akan menyengsarakan, menyebabkan kerugian selama menempuh perjalanan, dan akan menjadi laknat kelak di akhirat. {Dan,sesungguhnya siksa akhirat itu lebih menghinakan.} (QS. Fushilat: 16)

{Dan, sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih.} (QS. Saba: 37)

Sumber: “La Tahzan, Jangan Bersedih! (Karya Fenomenal DR.`Aidh al-Qarni) 2003, 193-196”