Salam Kami

doa rabithah

doa rabithah

HADAPILAH...SHOUTUL HARAKAH

Rabu, 01 Juni 2011

KUBAYAR KEGAGALAN ITU


Penulis: Adenia
 Kami berlima hanya berani mengandalkan sisa-sisa harapan yang kami sendiri tidak yakin. Sebab air mata penyesalan itu  sepertinya sudah kering di sumur hati kami. Ujian her ini mungkin satu-satunya harapan kami untuk mempersembahkan sedikit senyum pada ayah dan ibu kami setelah kemarin-kemarin kepedihan dan keprihatinan yang kami  beri pada ibu dan ayah kami.
Orangtua mana yang tidak terpukul tatkala mendapat berita anaknya tidak lulus UN? Ya, itu yang dialami ayah ibuku. Sebenarnya mereka sangat marah dan tepukul, tapi karena melihat kondisiku yang lebih tidak bisa menerima apa yang aku alami, ayah dan ibu masih bisa mengulum kekecewaan mereka dan tidak menyalahkan sepenuhnya diriku. Meski pahit, mereka tetap menghibur dan menyemangatiku. Padahal, pada saat surat kelulusan itu berada tepat di tanganku, rasanya petir dan halilintar menyambar ubun-ubunku. Seolah jiwaku terbang melayang menangis bersama dengan kekecewaan.
Sesak yang mengumpul di rongga dada mengalirkan tangis pedih di mataku. Brengsek! Bodoh! Mengapa aku percaya dengan janji-janji manis orang itu? KakFiyan, guru lesku. Orang yang awalnya sangat aku puja dan kuharapkan tetapi ternyata...(hufff..)
Meskipun aku tidak sendirian yang tidak lulus, tapi tetap saja hatiku perih. Keputusan tidak lulus itu begitu menyayat tatkala kau terima langsung di tanganmu. Seolah ada orang yang mengobrak-ngabrik harga dirimu dan teriak di telingamu” Dasar bodoh!”. Aarrrrggghhhh...
                                                        ***
Mengapa aku dulu begitu naif, padahal berkali-kali Hanifah menasihati dan mengingatkanku agar tidak terlalu dekat dengan Kak Fiyan, guru lesku itu. Aku tidak pernah menggubrisnya. Aku menganggap Hanifah terlalu naif dan iri akan kebahagiaanku. Hanifah kan tidak kenal Kak Fiyan. Bisa-bisanya dia menilai Kak Fiyan pujaanku itu.
Aku mengenal Kak fiyan dari tempat lesku. Mahasiswa salah satu universitas ternama itu punya kharisma luar biasa. Setidaknya buatku. Dia tampan, dan yang pasti dia sangat pintar. Awalnya aku hanya menganggap Kak Fiyan sebagai guru lesku tapi entah mengapa lama kelamaan ada perasaan lain yang menderaku. Satu hari saja aku tidak melihatnya, aku begitu merindukannya. Wajahnya terus berputar-putar di benakku. Untungnya  Kak Fiyan guru lesku, jadi aku punya alasan kuat untuk sering bertemu  dengannya. Jadwal ujian yang semakin dekat adalah alasan yang  tak perlu kucari-cari untuk  bisa dekat dengan Kak Fiyan terus-menerus. Kalau dihitung-hitung, aku lebih sering jalan- jalan pelesiran  dengan Kak Fiyan dibanding duduk bersamanya membahas pelajaran. Tak apalah, Kak Fiyan kan pintar, masak tidak mau menolongku?Dan sepertinya Kak Fiyan juga naksir denganku. Buktinya dia tidak pernah menolak bertemu dan jalan denganku. Bahagianya.                         
                                                        ***
Aku masih shock menghadapi peristiwa lima menit lalu. Tiba-tiba seorang wanita menghampiriku.
“Jangan ganggu pacar orang, anak ingusan. Fiyan itu pacarku.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Perih hatiku mendengar hardikkan tiba-tiba itu.  Aku sakit hati dan begitu terpukul. Orang tampan dan pintar yang kutaksir ternyata memiliki kekasih. Selama ini aku hanya tahu Kak Fiyan adalah kekasihku seorang. Huff...Aku tidak bisa menerima kondisi ini tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.  Kalau harus bersaing dengan gadis itu aku tidak sebanding. Pacar Kak Fiyan adalah mahasiswa satu angkatan dengan Kak Fiyan.
Kutenangkan diriku dengan segelas air es pemberian Hanifah. Kutumpahkan semua sesak di dadaku di bahunya.
“Aku benci Kak Fiyan. Tapi aku tidak bisa diginiin, aku gak rela. “Isak itu masih menggayut di dadaku.
Tiga hari setelah peristiwa itu aku tidak bisa lagi membuat diriku tenang. Air mata terus-menerus mengalir dan dadaku sesak menahan segala perasaan. Marah, benci, dan aku tak tahu lagi bagaimana perasaanku. Kucoba menghilangkan kesedihan ini dengan membaca latihan soal-soal ujian tapi yang ada Kak Fiyan terus berputar-putar di kepalaku. Bagaimana mau konsentrasi? Aku terus mengutuki nasib diriku.
                                                           ***
Dua malam menjelang ujian, Kak Fiyan datang menemuiku dan beberapa teman gankku. Melihat wajahnya aku begitu kesal tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kesal itu aku yang buat sendiri kok.
“Saya punya orang dalam yang bisa menjamin kalian lulus. Kebetulan yang mengoreksi hasil UN itu teman-teman saya di dinas. Kalian tinggal berikan ke kami nomor ujian kalian. Nanti kami bantu. “ rayu Kak Fiyan pada kami.
“Jaminannya apa Pak?”
“100% pasti lulus. Ya, kalau cuma tiga ratus ribu, tidak mahal kan?”
“Pasti, Kak?”
“Dijamin.”
Rayuan Kak Fiyan mampu meruntuhkan ketakutan kami. Di antara  kegamangan kami pun memutuskan untuk mempercayai begitu saja rayuannya. Kami menyerahkan nomor ujian dan uang tiga ratus ribu rupiah per orang. Kami tidak ingin sampai tidak lulus. Jaminan Kak Fiyan yang memiliki koneksi “orang dalam” agak melegakan. Kami mengajak semua teman di ruang kami untuk membayar tiga ratus ribu dan menyerahkan nomor ujian ke Kak Fiyan. Respon mereka luar biasa. Hanya empat orang yang menolak tawaran itu. Kami pun mengajak teman-teman dari kelas lain. Banyak juga yang merespon tawaran ini. Paling tidak kami mengajak teman-teman agar bisa sukses UN kali ini.
 Kak Fiyan menepati janjinya pada kami. Malam senin menjelang UN, kami mendapat kunci jawaban melalui SMS. Begitu pun malam-malam selanjutnya. Kami sukses mendapat kunci jawaban dari Kak Fiyan. Kunci inilah penyelamatku. Pasalnya konsentrasiku akhir-akhir ini tak memungkinkan aku untuk belajar. Aku mengikuti semua jawaban yang diberi Kak Fiyan. Aku tidak perlu cape-cape membaca dan mengerjakan soal-soal Ujian yang memusingkan itu.  Sebenarnya jawaban itu tidak penting lagi buat kami. Toh kami sudah mendapat jaminan lulus dari Kak Fiyan.
 Dan ternyata kami harus menelan pit pahit itu akhirnya. Janji Kak Fiyan ternyata petaka yang melemparkan kami ke jurang kekecewaan. Kami harus menanggung segala kebodohan yang telah kami ciptakan sendiri. Menggali kubur sendiri, kasarnya. Kami tidak lulus padahal sebelumnya kami sangat yakin kelulusan itu milik kami.
Nasi sudah menjadi bubur, dan kami harus menikmatinya meski aku harus muntah-muntah dan tersiksa menelannya. Aku paling tidak suka dengan bubur. Pepatah itu pas sekali dengan kondisiku, harus menerima meski aku ingin teriak dan menolak.
                                                            ***
Pengawas ujian her itu sedikit “angker”, rupanya ujian her kali ini tidak menjamin kami bisa lulus begitu saja. Nasibku dan teman-temanku benar-benar bagai telur di ujung tanduk. Jika ujian her ini aku gagal, aku harus menelan lagi kepahitan lulus dengan status “Paket C”. Aku tidak mau sampai itu terjadi. Kata teman-temanku ijazah paket C ditandatangani pak lurah. Kau bisa bayangkan? Kalau buatku itu artinya ijazahku ditandatangani ayahku yang pak lurah.
Kukumpulkan segenap kekuatan hatiku untuk melawan setan dalam diriku. Aku bisa saja mengikuti kunci jawaban yag kini beredar di kalangan teman-temanku. Aku harus menghargai diriku. Itu pesan Hanifah padaku. Kalau aku mengandalkan kunci secara langsung aku telah melabelkan diriku sendiri dengan status “bodoh”. Padahal aku toh tidak begitu saja mengikuti ujian her ini. Aku benar-benar belajar. Hitung-hitung aku membayar kekecewaan ayah dan ibu dengan belajar sungguh-sungguh menjelang ujian her ini. Tidak ada orang yang mau jatuh dua kali pada lubang yang sama , kan?
Kulihat teman-temanku sibuk berkasak-kusuk menanti kelengahan pengawas. Kunci jawaban itu pelan-pelan dipegang Dini. Sesekali Dini mengintip kunci itu. Aku iri dengan Dini. Mengapa kunci itu tidak ada padaku? Astagfirullah al azhiim. Lagi-lagi aku teringat pesan Hanifah.
“Jangan kau ulang dosamu yang dulu. Kau pintar. Bahkan lebih pintar daripadaku. Jangan kau hancurkan usaha kita dengan hal yang tidak berguna itu, ya.”
Kulanjutkan membaca soal-soal di depanku. Aku kerjakan soal-soal yang aku  bisa. Ternyata tidak terlalu sulit. Sebagian besar sudah aku pelajari bersama Hanifah. Alhamdulillah, ya Rob. Kau anugerahi aku sahabat yang sangat baik. Di saat aku jatuh terpuruk, di saat tak ada lagi yang peduli akan nasibku, di saat orang-orang hanya berkata “kasihan kamu, Nia”, Hanifah mau menggamit lenganku mengangkatku dari keterpurukan.
            Alhamdulillah. Akhirnya aku mampu menyelesaikan semua soal-soal itu. Bagaimana hasilnya? Ah, aku sudah tidak peduli lagi apa hasilnya. Semua kuserahkan padaMu ya  Robb. Aku sudah berusaha dan aku memohon padaMu. Untuk hasilnya? Aku hanya manusia. Kau yang punya kuasa.
            Ada hal luar biasa lain yang aku dapat dari ketidaklulusan ini. Aku jadi sadar bahwa aku begitu jauh dari Tuhanku, penciptaku, penggenggam hidupku. Maafkan aku Tuhan, aku ingin kembali pada jalanMu.
                                                                      ***
            Kupeluk tubuh ibuku. Air mata itu menderas dari sumbernya di mataku. Aku memang harus bersimpuh di kakinya. Selama ini aku tak pernah menghargai usahanya. Aku tak pernah menghargai doa-doanya. Padahal seumur hidupnya doa itu menderas untukku. Sejak aku mengenal Kak Fiyan aku benar-benar jauh dari ibuku. Aku sering sekali membohongi ibuku. Aku sering bilang belajar padahal aku pelesiran dengan Kak Fiyan. Aku sering pulang malam dan masuk mengendap-ngendap ke kamarku. Puncaknya aku pernah membentaknya karena aku dilarang mengikuti acara ke Bandung bersama Kak Fiyan waktu dulu.
           Aku tahu betapa perih hati ibuku. Kegagalan itu  adalah moment terindah untukku memperbaiki diri seharusnya.
        “Ibu, maafkan Nia. Nia sudah banyak bikin ibu susah. Sekarang Nia baru lulus. Maafin Nia ya bu”
           Ibu tak menjawab. Air matanya sudah membuatku berada dalam kesyahduan.
          “Ibu tidak peduli kau lulus atau tidak Nia. Ibu hanya ingin Kau kembali seperti Nia yang dulu. Anak ibu yang penurut dan tidak selalu menentang ibu. “
           Kami berpelukan. Ibu aku minta maaf Bu...

Selesai.