Salam Kami

doa rabithah

doa rabithah

HADAPILAH...SHOUTUL HARAKAH

Rabu, 28 September 2011

JILBAB KEHORMATAN KU


Alhamdulillah, Hidayah itu Datang Padaku
dakwatuna.com - “Astaghfirullah…astaghfirullah..! Tidak..tidak…! Muslimah berjilbab tidak sepantasnya berbuat seperti itu. Astaghfirullah…astaghfirullah..,” ucapku lirih pasca melihat hal yang tak seharusnya kulihat. Segera ku beranjak, berlari dari kelas tersebut.
***
Tersadar. Tersadar bila ingat peristiwa itu. Aku tersadar kalau aku sebenarnya jauh dari Tuhanku. Buktinya aku telah melupakan perintah Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang terhadap hamba-Nya. Aku lupa perintah berjilbab wajib untuk muslimah. Entah lupa atau belum tersadar atau pingsan atau sengaja mengingkari perintah tersebut, kini aku menyesal.

Mengusik. Peristiwa itu sangat mengusik. Aku bertekad ingin menjadi muslimah yang taat akan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya termasuk menjauhi akhlaq yang tidak baik. Aku tak ingin jilbabku mencoreng wajah muslimah lainnya seperti halnya saat peristiwa itu. Aku melihat seorang teman yang berjilbab sedang berpacaran dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh di kelas ketika jam istirahat. Astaghfirullah. Istighfar terus menerus terangkai dalam hati dan lisanku mengingat kejadian itu. Na’udzubillahimindzalik.
Suatu malam aku hendak meneguhkan hatiku. Hati yang selalu menggebu untuk menutup auratku. Ku beranikan diri menyatakan keinginanku berjilbab kepada ibu tercintaku.
“Bu.. Zahra minta izin untuk berjilbab. Boleh?” tanya Zahra sambil merajuk manja pada ibunya.
“Berjilbab? Serius?” Tanya ibu sembari mengernyitkan dahinya.
“Iya. Serius,” jawabku penuh keyakinan 100%.
“Tapi ibu ndak punya uang untuk mbeliin kamu seragam baru, jilbab baru, baju panjang baru Nduk. Trus gimana kamu mau berjilbab?” tanya ibu.
“Kalau ibu sudah mengizinkan, insya Allah ada jalan keluar. Kakaknya Septi yang berjilbab itu kan sudah lulus Bu. Nanti Zahra mau minta seragam bekasnya. Lagian kakaknya Septi kan tinggi Bu kayak aku. Trus Septinya kecil jadi kemungkinan bajunya tidak dipakai Septi” jawabku.
“Ya sudah. Alhamdulillah ibu senang. Ibu doakan semoga niat baikmu mendapat kemudahan Gusti Allah.”
“Aamiin..”
Zahra mulai menyusun jadwal silaturahim ke rumah Septi, sahabat karib SMP yang sejak saat itu ia satu-satunya siswa yang berjilbab di sekolah. Subhanallah. Walhamdulillah. Zahra jadi malu sendiri. Kesadaran berjilbab baru ia dapatkan ketika kelas dua SMA. Tapi tak apalah, syukur alhamdulillah dapat hidayah berjilbab.
Zahra kini lebih sering membaca buku tentang jilbab, kisah-kisah inspiratif tentang jilbab sampai siapa saja yang boleh melihat kita ketika tidak memakai jilbab. Dia tak ingin berjilbab hanya mengikuti trend, atau ikut-ikutan. Bila niatnya demikian pasti tak akan bertahan lama. Niatnya berjilbab karena ingin memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslimah. Semua harus berdasarkan ilmu dan kepahaman akan berjilbab.
***
“Assalamu’alaikum…”, salam dari Zahra sembari mengetuk rumah Septi.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh… Eehh, Zahra… masuk yuk…” jawab Septi.
“Hey… aku punya kabar gembira loh…!
“Apa itu Ra?”
“Aku mau pake jilbab…” jawabku sembari tersenyum lebar, senyum paling manis tanda aku sangat berbahagia.
“Alhamdulillah akhirnya sahabatku ini berjilbab juga. Bisa bantu apa nih..” tawar Septi.
“Tahu banget aku butuh bantuan… hehe… Iya nich, aku butuh seragam bekas mbak Fika yang baru lulus kemarin. Kamu pake nggak?”
“Boleh banget… aku kan udah punya seragam sendiri jadi seragam mbak Fika buat kamu aja..”
“Alhamdulillah… akhirnya…”
Aku senang sekali. Bersyukur. Alhamdulillah satu masalah sudah ada jalan keluarnya. Kini aku sudah mendapat dua rok panjang, meski yang satu tampak cingkrang kalau dipakai. Tapi aku merasa sangat bersyukur telah mendapatkannya. Untuk seragam atasan lengan panjang sepertinya di lemari ada. Baju putih kakak yang tak lagi berwarna putih cerah kurasa masih bisa dan layak dipakai. Paling tidak itu menurut kacamataku.
“Yaa Rabb..alhamdulillah Kau tunjukkan jalan-Mu. Bantulah aku menyusuri indahnya perjalanan menuju ridha-Mu.” []

BAGIAN 2
Cihuy Aku Dapat Hadiah
Ramadhan oh Ramadhan. Bulan yang selalu kunantikan. Bulan penuh keberkahan. Bulan penuh ampunan. Bulan penuh kemuliaan. Siapa yang tak ingin mendapatkannya? Semua orang beriman pasti menginginkannya. Termasuk aku. Karena aku puasa berarti aku orang beriman yang diseru untuk menjalankan puasa Ramadhan.
“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
Siapa yang tidak tahu ayat itu? Tentu semua sudah tahu. Bahkan hafal alias nglothok. Hatiku berdesir. Ramadhan kali ini Allah akan kasih hadiah apa ya padaku? Tanyaku dalam hati sambil berangan-angan mendapat hadiah istimewa dari-Nya.
“Ya Rabb…beri aku hadiah terbaik dari-Mu di bulan Ramadhan ini, aamiin,” doaku lirih penuh pengharapan.
***
“Sahur….sahur…Nduk sahur….” Terdengar suara lembut ibu membangunkanku.
“Nggih bu..jam berapa tho Bu..? Tanyaku sambil merem melek setengah sadar.
“Jam tiga Nduk. Ayo bangun sekarang…semua sudah bangun itu loh…,” kejar Ibu membangunkanku.
“Nggih nggih Bu…bangun…!”
Malam pertama sahur. Sangat kunikmati. Suasana religiusnya menyenangkan hati. Riuh nada kentongan membangunkan orang tidur agar segera sahur, terdengar merdu. Sesekali bergantian dengan tilawatil Qur’an di masjid yang berjarak 100 meter saja dari rumahku. Yach terdengar indah merasuk kalbu. Menggetarkan seluruh syarafku. Belum suasana kebersamaan saat makan sahur. Subhanallah. Nikmat yang begitu indah. Rasa yang paling indah bagi orang yang menyadarinya bahwa itu sebuah nikmat yang begitu indah.
Alhamdulillah kenyang. Tidak khawatir akan lemas nanti siang. Maklum anak usia remaja makannya selalu banyak. Tidak laki-laki tidak perempuan sama saja menurutku. Banyak makannya. Karena tubuh mereka lebih banyak membutuhkan nutrisi agar bersemangat menghadapi hari terutama di bulan puasa.
Selepas sahur, entah kenapa terbesit keinginanku menyetel radio. Yach banyak kuis di sana. Tak hanya radio, televisi pun juga menayangkan program-program kuis berhadiah. Apalagi di bulan Ramadhan. Subhanallah. Banyak berkah banyak hadiah. Makanya takkan kubiarkan kesempatan ini.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kabar pendengar setia Gajah Mada? Sudah sahur semua. Tentunya sudah dong. Yang belum sahur ayo segera sahur. Sahur sahur..Sebentar lagi subuh ayo sahur….sahur…” riuh mbak Vina, penyiar sebelum ia buka kuisnya.
“Saatnya kuissssss berhadiah…asyiiikkk…ayo siap-siap siapa yang mau gabung…dengerin ya…” lanjutnya.
“Punya pengalaman unik menarik seputar mie Gaga dan kreasinya…waahhh tentu banyak dong cerita nya…ayo bagi-bagi pengalamannya…cerita yang paling menarik dengan kreasi masakan yang unik akan mendapat hadiah paket mie gaga dan uang lima puluh ribu rupiah…weee menarik kan.. ditunggu sepuluh penelepon pertama…”
Aku tertarik. Asyik. Itu kan mudah banget buatku. Semoga aku bisa menang. Lumayan kalau menang aku bisa beli seragam putih satu dan jilbab satu. Jadi kalau liburan puasa selesai lalu masuk sekolah aku sudah bisa memakai jilbab. Ya Allah berikanlah aku hadiah terbaik di Ramadhan-Mu.
“Hallo…Gaga kuis…” ucapku lewat udara.
“Gaga kuiss..dengan siapa ini?”
“dengan Zahra.”
“Silakan cerita dan kreasinya.”
“Jadi setiap malam bulan Muharram kami sekeluarga biasa melek-melek. Selalu ada makanan dan minuman yang menemani. Saat itu kami butuh makanan ringan yang mengenyangkan. Tapi karena sudah larut malam tidak ada warung yang buka untuk beli makanan. Terlalu jauh kalau harus sampai jalan raya. Di sana banyak penjual gorengan dan lainnya. Namun teringat di lemari ada mie Gaga. Segera aku rebus mienya. Setelah matang aku buang airnya lalu kutambahkan bumbu instan yang ada di dalam mie. Kucampur dengan telur. Kemudian mie digoreng setiap satu sendok sayur. Tak perlu ditambah bumbu lainnya. Karena bumbu instantnya saja sudah enak. Tra laaa… mie sarang burung sudah jadi. Hmmm enak…” begitulah ceritaku.
“Wah seru banget…terima kasih Zahra,” tutup mbak Vina.
“Ayo ditunggu penelepon selanjutnya.”
Hatiku lega. Akhirnya telepon dariku bisa masuk juga. Tinggal menunggu. Telingaku tak mau berhenti mendengarkan serunya kuis kali ini. Dari cerita yang aku dengar, sepertinya ceritakulah yang paling seru dan unik kreasinya. Semoga saja aku menang. Ya Allah berikanlah hadiah terbaik di Ramadhan-Mu.
“Saatnya pengumuman siapa yang ceritanya paling menarik dengan kreasi masakan yang unik. Dari sepuluh penelepon hampir semua masakannya hanya di rebus atau dijadikan mie goreng saja. Tapi eits tunggu dulu ternyata ada satu penelepon yang dibuat apa tadi namanya…ya… mie sarang burung…hayoo. Siapa tadi yang menelpon… Yup mbak Zahra yang berhak mendapatkan hadiah paket mie Gaga dan uang lima puluh ribu rupiah. Silakan mbak Zahro menelpon kembali untuk informasi pengambilan hadiah. Selamat yach….” Pungkas mbak Vina.
Alhamdulillah Ya Allah. Terima kasih Kau telah beri aku hadiah terbaik dan terindah di Ramadhan-Mu. Aku sontak kegirangan. Ibuku, bapakku, kedua kakakku dan adik-adikku semuanya senang. Tidak biasanya ikut kuis bisa menang. Sekali lagi alhamdulillah Ya Allah.
Keesokan harinya aku dengan ibu pergi mengambil hadiah. Masih melekat kebahagiaan itu di hatiku. Setelah selesai aku segera membelanjakannya untuk membeli seragam putih panjang baru dengan harga dua puluh satu ribu dan jilbab baru hanya lima belas ribu. Alhamdulillah paling tidak aku ke sekolah bisa memakai jilbab. Meski baru satu jilbabku tapi aku tidak peduli. Allah pasti menunjukkan jalan-Nya untukku. Sudah terbukti. []

BAGIAN 3
Hari Pertamaku, oh Jilbabku
Tuk..tuk..tuk…Bunyi itu sengaja aku mainkan untuk mengurangi desir-desir hati memasuki esok hari. Malam ini aku sangat berdebar-debar memikirkan apa komentar teman-temanku besok? Entahlah. Tak ingin ambil pusing sebenarnya, tetapi hal itu sudah otomatis mengusik pikiranku.
Jilbabku. Kira-kira mereka komentar apa ya soal jilbab baruku? Teman-teman perempuanku kan belum berjilbab. Paling cuma Zumi dan Vita. Tidak tahu kenapa sekolah menengah atas milik yayasan Islam, besar pula tidak mewajibkan murid-muridnya muslimah mengenakan jilbab. Padahal jilbab itu wajib. Entahlah.
Tuk..tuk..tuk…bunyi pulpen itu masih aku mainkan sembari melanjutkan perjalanan berpikirku. Hmmm mungkin ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan. Seperti pertimbangan aurat bisa saja ditutup tapi hati dan perbuatan masih tidak karuan. Khawatir bisa mencoreng wajah sekolah dan Islam. Tapi kalau nunggu hidayah yang kalau tidak kita cari ya tidak bakal ketemu.
Masih dalam pikirku. Ketika kita sudah memutuskan untuk menutup aurat ya standar minimal kita harus menjaga aurat. Ketika aurat terjaga maka harapannya jilbab bisa mengontrol perbuatan yang akan kita lakukan.
Haaaaahhh…tau ah tak mau ambil pusing. Kenapa demikian. Hal yang paling menyebalkan esok hari adalah komentar Guntur, Guruh, dan Aryo. Aku harus menyiapkan diri dan hati. Terserah mereka mau bilang apa. Mereka paling usil dan cerewet denganku.
Hal yang paling penting, sekarang mereka tak kan lagi bisa mengganggu rambutku kalau ulang tahun. Sudah dikasih tepung, dilempar telur, dioles sampho, dilempar air. Itu kejam, sayang atau keterlaluan. Padahal aku tak membawa baju ganti dan sisir waktu itu. Sebelum pulang sekolah aku menangis di kamar mandi karena malu gara-gara itu. Sembari membersihkan rambut, aku sesegukan. Bayangkan aku pulang dalam keadaan baju basah dan rambut masih banyak menyisakan tepung. Temanku-temanku tega nian dirimu padaku.
Berbeda dengan teman-teman dekatku Siti, Rida, Eva dan Puput pasti surprise melihatku. Sengaja aku tidak memberitahu mereka. Tidak surprise namanya kalau sudah diberitahu. Kalau si Ahmad pasti senanglah dan tambah naksir padaku karena dia fans beratku sejak kelas satu. Tapi syukur aku tak pernah menyambut siapa pun untuk berpacaran denganku. Kata ibu sekolah itu arena belajar, bukan arena pacaran. Dan aku menyepakati itu. Toh itu untuk kebaikanku.
Sudahlah. Memikirkan apa reaksi mereka tidaklah menyurutkan langkahku. Yang lalu biarlah berlalu. Hari esok adalah masa depanku. Kan kusambut hari esok dengan bismillah semoga Engkau beri aku kelapangan dan kemudahan.
Pagi menjelang. Aku sengaja berangkat jauh lebih pagi agar teman-teman lain kelas tak terlalu terkejut melihat perubahan penampilanku. Terlebih teman sekelasku. Aku langsung duduk di bangku tanpa bergerak sedikit pun dan pura-pura menulis sesuatu di buku.
Hmmm..berhasil. Mereka seperti tak menyadari kalau aku sekarang menutup auratku. Tersenyum asyik Galuh belum menyadari hal itu. Tapi tak berapa lama kemudian.
“Haaaa….Zahra pakai jilbab…!”teriak Zumi salah satu dari teman sekelasku yang memakai jilbab. Teriakannya histeris memecahkan suasana santai di kelas.
“Alhamdulillah…” lanjutnya.
Semua teman sekelas lalu berburu memandangiku. Tak terkecuali Galuh yang tadi sempat terkecoh dengan penampilanku. Lalu berhamburanlah mereka mendekat. Mereka memberi selamat atas perubahan penampilanku.
“Selamat ya…selamat ya…mimpi apa kamu semalam…sudah tobat ya…” berondong Galuh.
Aku hanya senyum-senyum mendengar komentar teman-temanku. Kurang lima menit bel berdering tanda masuk kelas. Satu per satu temanku mulai berdatangan. Sama seperti lainnya. Mereka heboh melihat perubahan penampilanku. Lagi-lagi aku hanya senyum-senyum sendiri. Sehari jadi artis jilbab sembari tertawa dalam hati.
Teeeeetttt….bel berbunyi. Hari pertama masuk langsung pelajaran. Dari jauh aku sudah mendengar detak sepatu Bu Erni guru Fisikaku. Pusing aku mendengar detak sepatunya. Karena Fisika berhasil membuat satu uban di kepalaku. Tapi pelajaran itu tetap saja dimulai tanpa peduli tumbuh uban di kepala siapa pun. Tak hanya aku.
“Zahra…ada apa kok kamu dari tadi pegang kepala terus,” Tanya Bu Erni yang ternyata sedari tadi memperhatikanku.
“Hmmm anu Bu…” jawabku grogi dan berkeringat.
“Jilbabnya baru Bu..” sahut Galuh memotong jawabanku.
“Oh iya…ada yang berubah ya… selamat ya…dirapikan tuch jilbabnya..tampak miring…” lanjut Bu Erni.
“Ehh…iya Bu..terima kasih,” jawabku gugup dan malu.
Ya dari tadi aku memang dikit-dikit merapikan jilbab. Maklum jilbab yang aku pakai jilbab kotak yang kalau memakainya pakai peniti. Padahal aku belum pernah pakai jilbab model begini. Ya baru kali ini. Jilbab baruku yang langsung pakai, sementara tidak aku kenakan ke sekolah. Karena tampak tak resmi. Jadi terpaksa aku harus memakai jilbab kotak.
Ya biarlah. Konsekuensi memakai jilbab. Grogi, keringetan, capek. Pasalnya ya harus bolak balik benerin jilbab. Jadi begini raasanya pakai jilbab. Bahagia. Senang. Lucu. Rasakan sendiri dech sensasinya. []